Rabu, 13 Juni 2012

[Tulisan 8] Ilmu Budaya Dasar


Aplikasi perkuliahan dengan cara soft skill

Perkuliahan soft skill adalah perkuliahan yang mengedepankan komunikasi dan sikap. Soft skill disini berarti mengarahkan dan memperkokoh pondasi sikap positif kepada para mahasiswa agar menjadi manusia yang berkepribadiaan mulia untuk menunjang keahlian sesuai bidangnya. Sehingga para mahasiswa mampu menjalankan Tri Darma Perguruan Tinggi, yaitu : Pendidikan & Pengajaran, Penelitian, serta Pengabdian kepada masyarakat.
Menurut pendapat saya softskill itu adalah tempat para mahasiswa berkarya di dunia internet melalui tulisan tulisan imiah yang dibuat oleh mahasiswa itu sendiri. Penerapan tugas soft skill juga bisa kita kembangkan sekreatif mungkin. Dengan adanya perkuliahan soft skill dapat membuat kita lebih kreatif dan menambah pengetahuan dalam dunia internet yang kita ketahui saat ini sedang berkembang pesat. Tugas yang kita buat ini juga berguna untuk menambah wawasan dalam berkarya didunia internet yang nantinya dapat berguna oleh kita semua.

Cara mengupload tugas dan tulisan serta sebagai pengantar
1.        Apabila tugas dan tulisan telah selesai dibuat maka langkah pertama adalah posting keduanya pada akun blog pribadi.
2.        Bagi setiap mahasiswa wajib memiliki akun blog yang berguna untuk memposting pada sebuah layanan studentsite.
3.        Setelah tugas dan tulisan diposting melalui akun blog pribadi maka langkah selanjutnya adalah dengan mengirimkan tugas tersebut pada studentsite.
4.        Login terlebih dahulu kemudian setelah masuk studentsite maka pilih menu layanan studentsite. Jika kita ingin mengirimkan sebuah tugas maka kita klik tanda panah menu tersebut lalu pilih tugas (UG Portofolio) atau jika berupa tulisan maka kita pilih tulisan (UG Portofolio).
5.        Langkah berikutnya kita isikan title (judul tugas yang kita buat), URL (pilih URL pada blog tugas yang telah diposting) dan mata kuliah.
6.        Setelah selesai, klik submit maka secara otomatis tugas yang kita kirim akan muncul ditampilan menu tugas/tulisan layanan studentsite.

Jelasakan apa dan bagaimana perkuliahan softskill
Mata kuliah soft skill salah satu tujuannya adalah untuk membuka wawasan mahasiswa dengan membuat tulisan yang terkait dengan topik - topik yang berkaitan dengan mata kuliah yang menunjang mata kuliah soft skill tersebut. untuk mata kuliahnya sendiri berbeda - beda setiap jurusan,
karena kampus yang berbasis IT dan mengoptimalisasi semua program kampus dengan IT, maka memiliki blog wajib untuk mengikuti mata kuliah soft skill ini.
lalu dari blog tugas dan tulisan di upload ke studentsite.
Dengan adanya mata kuliah softskill (telematika) menurut saya itu merupakan cara yang bagus untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam menyalurkan bakat menulis. Saya pribadi menjadi tahu mengenai latar belakang, perkembangan, dan pemanfaatan telematika itu sendiri dalam perkembangan teknologi sekarang ini. Mata kuliah ini perlu dilanjutkan karena membantu mahasiswa dalam melatih maupun mengembangkan bakat menulis.    

[Tulisan 7] Ilmu Budaya Dasar


Keragaman Budaya

1.        Seluk Beluk Budaya
Secara bahasa budaya berasal dari bahasa Sansekerta yaitu “Buddayah” yang merupakan bentuk jamak dari “Buddhi” yang berarti budi atau akal. Berikut ini adalah beberapa pendapat para ahli mengenai pengertian budaya:
a)    Koentjaraningrat, menyatakan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan manusia yang didapat dari proses belajar.
b)   Herkovits, menyatakan bahwa kebudayaan adalah bagian dari lingkungan hidup yang diciptakan manusia.
c)    Seloe Soemardjan dan Soelaeman Soemardi menyatakan bahwa kebudayaan adalah hasil dari cipta, rasa, dan karsa manusia.
Dari pengertian-pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa kebudayaan adalah segala sesuatu yang berbentuk material ataupun  non-material yang dihasilkan oleh manusia.
Berdasarkan wujunnya budaya dikelompokkan menjadi:
·      Budaya yang bersifat abstrak
Budaya ini terletak dalam pikiran manusia dalam bentuk ide, gagasan, norma, nilai, peraturan dan cita-cita. Budaya yang bersifat abtrak ini merupakan wujud ideal dari budaya karena merupakan sesuatu yang seharusnya atau yang diinginkan manusia.
·      Budaya yang bersifat konkret
Budaya ini berbentuk tindakan atau perbuatan yang terarah langsung bisa dalam bentuk periku, bahasa dan materi.
Sebagai sebuah hasil karya tentunya budaya memiliki unsur-unsur yang dapat terlihat. Berdasarkan suatu rujukan yang menyatakan:
… Sebuah hasil kebudayaan dapat dilacak dari 2 (dua) unsur utama pembentuk kebudayaan, yaitu manusia dan alam. Irisan antara manusia dan alam kemudian membentuk sebuah ruang yang kemudian disebut sebagai ruang binaan, didalam ruang inilah kemudian budaya-budaya diciptakan untuk mengatasi masalah manusia… (Tn.2010)

Dapat diketahui bahwa unsur utama pembentuk kebudayaan adalah manusia itu sendiri dan alam. Sedangkan C. Kluckhohn menyatakan dengan lebih terperici bahwa ada tujuh unsur kebudayaan yang dapat ditemukan pada seluruh kebudayaan bangsa di dunia yaitu:
1.    Sistem religi.
2.    Sistem pengetahuan.
3.    Sistem mata pencaharian.
4.    Sistem peralatan hidup (Teknologi).
5.    Organisasi kemasyarakatan.
6.    Bahasa.
7.    Kesenian.
Selain itu pada dasarnya budaya memiliki substansi atau isi utama kebudayaan yang merupakan bentuk abstrak dari berbagai ide atau gagasan manusia yang muncul di masyarakat. Adapun bentuk-bentuknya adalah sebagai berikut:
Sistem pengetahuan
Sistem pengetahuan ini merupakan hal yang dimiliki manusia sebagai mahluk sosial dalam upaya mengetahui hal-hal serta hubungan timbal balik segala sesuatu yang ada disekitar manusia. Untuk itu manusia bisa menempuh beberapa cara yaitu:
1) Pengalaman langsung.
2) Pengalaman dari pendidikan formal maupun non formal.
3) Komunikasi simbolik.
Nilai
Nilai adalah segala sesuatu yang dianggap baik, selalu diinginkan, dicita-citakan dan penting bagi seluruh umat manusia yang ada dalam masyarakat.
Pandangan hidup
Pandangan hidup adalah nilai yang dianut oleh suatu masyarakat. Jika suatu bangsa tidak memiliki pandangan hidup maka bangsa tersebut akan mudah terpengaruhi dan dikendalikan oleh bangsa lain.
Kepercayaan
Kepercayaan disini adalah kepercayaan terhadap sesuatu yang “maha” diluar manusia dan bergantung pada keyakinan manusia itu sendiri.
Persepsi
Persepsi adalah titik tolak pemikiran untuk memahami kejadian atau gejala-gejala dalam kehidupan. Persepsi ini terdiri dari:
1.       Persepsi sensorik: persepsi yang terbentuk tanpa menggunakan indra.
2.      Persepsi telepati: kemampan dalam mengetahui mental individu lain.
3.      Persepsi clairvoyance: kemampuan melihat peristiwa jauh di tempat lain dari orang yang bersangkutan.
Etos kebudayaan (jiwa kebudayaan)
Etos kebudayaan ini merupakan watak khas dari sebuah kebudayaan. Setiap kebudayaan memiliki etos budaya masing-masing bahkan bisa sangat berbeda.
Contohnya, orang Jawa melihat orang Batak sebagai orang yang kasar, tegas, agresif, konsekuen dan berbicara apa adanya. Lain halnya dengan orang Batak yang memadang orang Jawa sebagai orang yang lamban, ketenangan yang berlebihan, feodal, dan tingkah lakunya yang sulit di tebak.

2.        Keberagaman Budaya
Masyarakat di Dunia terbentuk dari berbagai ras dan kebudayaan yang unik, begitu pula dengan Indonesia. Masyarakat indonesia terdiri dari berbagai etnik kebudayaan yang beragam dan memiliki ciri khas masing-masing. Perbedaan ciri khas tersebut disebabkan adanya beberapa faktor yang melatarbelakangi masyarakat tersebut. Adapun faktor penyebab perbedaan tersebut adalah:
a)         Faktor alam
Iklim, letak bumi dan kekayaan alam di suatu wilayah secara tidaklangsung berpengaruh terhadap kebudayaannya. Sebagai contoh adalah suling bambu merupakan hasil kebudayaan masyarakat yang di wilayahnya terdapat sumber daya alam berupa tanaman bambu seperti yang terdapat di jawa ataupun daerah cina.
b)        Faktor kebiasaan
Kebiasaan di suatu masyarakat akan berbeda dengan kebiasaan masyarakat lain. Bahkan bisa saja suatu kebiasaan yang sama memiliki maksa yang bertolak belakang diantara masyarakat satu dengan yang lainnya.
c)         Faktor kedaerahan
Walaupun masih terdapat dalam atu kawasan negara, dengan adanya faktor kedaerahan akan melahirkan budaya-budaya khusus (sub kultur) yang berbeda satu sama lainnya. Contohnya kebiasaan masyarakat Sunda memiliki perbedaan dengan kebiasaan masyarakat Bali, Minang ataupun Batak.
d)        Pelapisan sosial
Istilah pelapisan sosial biasa kita kenal dengan sebutan stratifikasi sosial. Dengan adanya stratifikasi sosial ini akan berdampak pada terjadinya penggolongan masyarakat kedalam beberapa kelompok kelas tertentu dan berpengaruh pada pengaruh kebudayaan pada masing-masing golongannya. Faktor ini bisa dilihat dari perbedaan cara bersikap, bergaul dan perpakaian antara masyarakat berperekonomian menengah keatas denga masyarakat pada umumnya.

Sebagai hasil dari karya manusia, kebudayaan memiliki beberapa kecenderungan yaitu kecenderungan untuk tetap bertahan dan kecenderungan untuk mengalami perubahan.
Suatu kebudayaan akan cenderung bertahan jika kebudayaan tersebut terus dipergunakan dan dipertahankan oleh masyarakat.
Sedangkan kebudayaan akan cenderung berubah jika kebudayaan tersebut sudah tidak dipergunakan lagi oleh masyarakat.

Kebutuhan hidup yang ada pada manusia sangatlah kompleks dan memiliki perbedaan satu sama lainnya. Maka tidak heran jika kebudayaan yang dibentuk oleh masyarakat pada suatu lingkungan akan berbeda dengan kebudayaan di lingkungan lain. Kebudayaan dan lingkungan tempat berkembangnya budaya tersebut saling memberi pengaruh satu sama lain. Keadaan lingkungan akan merangsang masyarakat di lingkungan tersebut untuk membentuk kebudayaan. Kebudayaan tersebut akan berimplikasi terhadap pola, tata laku, norma, nilai dan aspek-aspek kehidupan lainnya sehingga menjadi ciri khas masyarakat di lingkungan tersebut.
Walaupun demikian, diantara kebudayaan-kebudayaan yang beragam tersebut tetap terjadi kontak-kontak sosial seperti difusi sosial sehingga memungkinkan terjadinya pengadopsian budaya-budaya tertentu yang dianggap berguna. Dari situlah mulai terbukanya pintu perkembangan dan perubahan kebudayaan.
Di sisi lain perubahan kebudayaan ini memicu terjadinya konflik antara kelompok yang pro dengan yang kontra terhadap perubahan kebudayaan. Maka untuk menanganinya perlu dibentuk kontrol atau kendali sosial terhadap perilaku yang nampak sehingga dalam pengadopsiannya dapat memilih-milih antara kebudayaan yang sesuai dan tidak.
Sebagai hal yang terus berkembang tentunya kebudayaan memiliki beberapa permasalahan diantaranya:
a)         Hambatan yang berkenaan dengan pandangan hidup dan sistem kepercayaan.
Sebagai contoh, orang Sunda yang memiliki anggapan bahwa tanah kelahirannya akan memberikan rezeki yang berlimpah, maka orang Sunda cenderung untuk enggan meninggalkan kampung halamannya walaupun dalam keadaan miskin.
b)        Hambatan yang berkaitan dengan perbedaan persepsi.
Contohnya adalah penolakan program KB atas dasar anggapan bahwa makin banyak anak makin banyak rezeki.
c)         Hambatan yang berkenaan dengan faktor psikologis.
Contoh: sulitnya pelaksanaan program transmigrasi karena masyarakat merasa takut dan beranggapan bahwa keadaan mereka di tempat yang baru akan lebih sengsara.
d)        Masyarakat yang terisolir.
Masyarakat sulit dalam berkomunikasi dengan masyarakat luar dikarenakan adanya keterbatasan dan seolah-olah menutup untuk menerima prgram pembangunan.
e)         Prasangka buruk terhadap hal-hal baru.
f)         Sikap etnosentrisme yaitu sikap yang mengagung-agungkan budaya sendiri dan menganggap remeh kebudayaan lain.
g)        Penyalahgunaan perkemangan IPTEK.
h)        Kultural shock atau gagap budaya sehingga menimbulkan keraguan dan kecanggungan.

A. Kesimpulan
Kebudayaan merupakan buah karya manusia yang berupa materi maupun non-materi yang pada dasarnya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Kebudayaan antara masyarakat yang satu dengan yang lainnya akan mengalami perbedaan dikarenakan faktor dan potensi yang dimiliki oleh setiap daerah berbeda maka kebudayaan yang dihasilkanpun akan berbeda.

B. Saran
Keberagaman dalam aspek kehidupan manusia ini menunjukan betapa istimewanya manusia, maka keragaman ini harus dijadikan bahan dalam upaya perkembangan kemajuan manusia bukan dijadikan sebagai dasar perselisihan yang berdampak pada kehancuran manusia.

[Tugas 8] Ilmu Budaya Dasar


Manusia dan Tanggung Jawab

Dalam konteks sosial manusia merupakan makhluk sosial. Ia tidak dapat hidup sendirian dengan perangkat nilai-nilai selera sendiri. Nilai-nilai yang diperankan seseorang dalam jalinan sosial harus dipertanggungjawabkan sehingga tidak mengganggu konsensus nilai yang telah disetujui bersama.
Tanggung jawab erat kaitannya dengan kewajiban. Kewajiban adalah sesuatu yang dibebankan terhadap seseorang, kewajiban merupakan tandingan terhadap hak, dan dapat juga tidak mengacu kepada hak, maka tanggung jawab dalam hal ini adalah tanggung jawab terhadap kewajibannya.
Kewajiban dibagi menjadi dua, yaitu:
1.    Kewajiban terbatas
2.    Kewajiban tidak terbatas

Tanggung Jawab
Tanggungjawab adalah keadaan wajib menanggung segala sesuatunya. Sehingga bertanggungjawab adalah kewajiban menanggung, memikul jawab, menanggung segala sesuatunya, atau memberikan jawaban dan menanggung akibatnya. Tanggungjawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Tanggungjawab juga juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya. Seseorang mau bertanggungjawab karena ada kesadaran atau keinsafan atau pengertian atas segala perbuatan dan akibatnya dan atas kepentingan pihak lain. Timbulnya tanggungjawab itu karena manusia itu hidup bermasyarakat dan hidup dalam lingkungan alam. Tanggungjawab itu bersifat kodrati, artinya sudah menjadi bagian kehidupan manusia, bahwa setiap manusia pasti dibebani dengan tanggungjawab. Apabila ia tidak mau bertanggungjawab, maka akan ada pihal lain yang memaksa tanggungjawab itu. Dengan demikian tanggungjawab itu dapat dilihat dari dua sisi, yaitu dari sisi pihak yang berbuat dan dari sisi kepentingan pihak lain. Dari sisi pembuat ia harus menyadari akibat perbuatannya itu, dengan demikian ia sendiri pula yang harus memulihkan ke dalam keadaan baik. Daari sisi pihak lain, apabila si pembuat tidak mau bertanggungjawab, pihak lain yang akan memulihkan baik dengan cara individual maupun dengan cara masyarakat.
Apabila dikaji, tanggungjawab itu adalah kewajiban atau beban yang harus dipikul atau dipenuhi sebagai akibat dari pebuatan pihak yang berbuat, atau sebagai akibat dari perbuatan pihak lain, atau sebagai pengabdian pada pihak lain. Kewajiban atau beban itu ditujukan untuk kebaikan pihak yang berbuat sendiri atau pihak lain dengan keseimbangan, keserasian keselarasan antara sesama manusia, antara manusia dan lingkungan, antara manusia dan Tuhan selalu dipelihara dengan baik. Tanggungjawab itu ciri manusia beradab (berbudaya). Manusia merasa bertanggungjawab karena ia menyadari akibat baik atau buruk perbuatannya itu, dan menyadari pula bahwa pihak lain memerlukan pengabdian atau pengorbanannya. Untuk memperoleh atau meningkatkan kesadaan bertanggungjawab perlu ditempuh usaha melalui pendidikan, penyuluhan, keteladanan, dan takwa terhadap Tuhan.
Berdasarkan penjalasan di atas, maka dapat kita jelaskan macam-macam dari bentuk tanggungjawab sebagai berikut :

1.        Tanggungjawab terhadap diri sendiri
“If  it is to be, it is up to me” maksud dari pepatah lama tersebut adalah hanya diri kita yang sepenuhnya bertanggungjawab terhadap kehidupan atau nasib diri kita sendiri. Ada beberapa ketentuan untuk dapat melaksanakan tanggungjwab kehidupan ini dengan baik. Ketentuan pertama adalah mengenali dan mengembangkan potensi yang ada dalam diri sendiri. Selain itu, memahami tujuan hidup supaya langkah untuk dikerjakan lebih terfokus. Yang terpenting dari semua itu adalah berpikir dan bersikap positif walau apapun yang terjadi. Kesuksesan dimasa depan tidak terkait erat dengan latar belakang maupun latar depan. Keadaan dalam merespon keadaan menentukan tingkat keberhasilan. Suatu keadaan yang sama, tetapi bila direspon secara berbeda maka akan memberikan hasil yang berbeda pula. Sebagai contoh adalah kehidupan mengenai sepasang saudara kembar di Amerika Serikat. Kejadian ini berlangsung sekitar tahun 1950-an. Keluarga pasangan saudara kembar ini berantakan. Sang kakak merespon keadaan itu secara positif, dan bertekad untuk sukses dalam kehidupan. Berkat usaha keras dalam belajar dan tekadnya yang besar, maka ia berhasil menjadi senator ternama di Amerika Serikat. Sedangkan saudara kembarnya sendiri melihat kekacauan dalam keluarganya itu secara negatif. Sehingga ia kehilangan kendali dan selalu berusaha menghancurkan dirinya sendiri. Akibatnya, ia harus mendekam di penjara seumur hidup karena melakukan tindakan kejahatan yang sangat fatal. Tidak ada orang lain yang harus dipersalahkan. Kesalahannya sendiri merupkan penyebab dari nasib buruknya itu. Dalam kisah tersebut terdapat perbedaan rasa tanggungjawab hidup yang besar. Faktor pembeda yang pertama adalah kepahaman terhadap potensi dalam diri masing-masing individu. Sang kakak merasa memiliki potensi yang cukup untuk ia kembangkan lebih lanjut. Oleh sebab itu, ia merasa bertanggung jawab untuk dapat meraih kehidupannya yang lebih baik. Sedangkan sang adik sama sekali tidak melihat potensi yang ada di dalam dirinya. Sehingga sang adik tidak merasa mampu mengemban tanggungjawab kehidupam ini dengan baik. Selain itu, sang kakak sudah menetapkan tujuan yang pasti, sehingga setiap langkahnya terarah. Sedangkan sang adik tidak memiliki tujuan hidup yang pasti. Sehingga, ia merasa tidak perlu bertanggungjawab terhadap kehidupan ini. Sementara sang kakak selalu menyikapi keadaan secara positif. Dilain pihak, sang adik tidak melihat sisi positif dari bencana yang menimpa keluarga mereka. Perbedaan tingkat rasa tanggungjawab hidup diantara mereka berdua telah menyebabkan perbedaan nasib yang sangat besar pula.
Dari contoh di atas, dapat kita ambil kesimpulan bahwa hanya diri kita sendirilah yang bertanggungjawab menentukan kehidupan seperti apa yang kita harapkan. Sedangkan orang lain tidak bertanggungjawab terhadap nasib ataupun kesuksesan kita. Peran dari orang lain hanya bersifat sebagai instrumen yang melengkapai usaha diri kita sendiri.

2.        Tanggungjawab terhadap Keluarga
Secara tradisional keluarga adalah tempat dimana manusia saling memberikan tanggungjawabnya. Si orang tua bertanggungjawab kepada anaknya, anggota keluarga saling tanggungjawab. Anggota keluarga saling membantu dalam keadaan susah, saling mengurus di usia tua dan dalam keadaan sakit. Ini terlepas dari apakah kehidupan itu berbentuk perkawinan atau tidak. Di lihat dari segi tanggungjawab, orang tua adalah orang yang paling bertanggungjawab terhadap pendidikan anak. Anak dilahirkan dan dibesarkan oleh orang tua, orang yang pertama kali dijumpai anak adalah orang tuanya, jadi secara tidak langsung ayah dan ibu adalah guru pertama bagi anak, disadari atau tidak oleh orang tua itu sendiri.
3.        Tanggungjawab terhadap masyarakat
Manusia bertanggungjawab terhadap tindakan mereka. Manusia menanggung akibat dari perbuatannya dan mengukurnya pada berbagai norma. Ini merupakan bentuk dari tanggungjawab terhadap masayarakat, dimana di dalam masyarakat telah ada aturan-aturan. Kehidupan bersama antar manusia membentuk norma yang kemudian berkembang menjadi aturan-aturan, hukum-hukum yang dibutuhkan suatu masyarakat tertentu. Dalam negara-negara modern aturan-aturan atau hukum-hukum tersebut termaktub dalam sebuah sistem hukum dan sama bagi semua warga. Apabila aturan-aturan ini dilanggar yang bersangkutan harus memperoleh hukuman atau sanksi. Jika ia misalnya merugikan hak milik orang lain maka Pengadilan dapat menghukum sikap yang bersalah (pelanggaran) berdasarkan KUHP.

4.        Tanggungjawab terhadap bangsa / negara
Pendidikan merupakan salah satu dari contoh bentuk tanggungjawab masyarakat atau lebih khususnya pelajar terhadap bangsa dan negara. Karena pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang terbaik bagi bangsa dan negara. Sumber Daya Manusia Indonesia masih sangat lemah untuk mendukung perkembangan industri dan ekonomi. Penyebabnya karena pemerintah selama ini tidak pernah menempatkan pendidikan sebagai prioritas terpenting. Sedikitnya terdapat tiga alasan untuk memprioritaskan pendidikan sebagai investasi jangka panjang.
·      Pertama, pendidikan adalah alat untuk perkembangan ekonomi dan bukan sekedar pertumbuhan ekonomi. Pada praksis manajemen pendidikan modern, salah satu dari lima fungsi pendidikan adalah fungsi teknis-ekonomis baik pada tataran individual hingga tataran global. Fungsi teknis-ekonomis merujuk pada kontribusi pendidikan untuk perkembangan ekonomi. Misalnya pendidikan dapat membantu siswa untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk hidup dan berkompetisi dalam ekonomi yang kompetitif. Para penganut teori human capital berpendapat bahwa pendidikan adalah sebagai investasi sumber daya manusia yang memberi manfaat moneter ataupun non-moneter. Manfaat non-meneter dari pendidikan adalah diperolehnya kondisi kerja yang lebih baik, kepuasan kerja, efisiensi konsumsi, kepuasan menikmati masa pensiun dan manfaat hidup yang lebih lama karena peningkatan gizi dan kesehatan. Manfaat moneter adalah manfaat ekonomis yaitu berupa tambahan pendapatan seseorang yang telah menyelesaikan tingkat pendidikan tertentu dibandingkan dengan pendapatan lulusan pendidikan dibawahnya. Sumber daya manusia yang berpendidikan akan menjadi modal utama pembangunan nasional, terutama untuk perkembangan ekonomi. Semakin banyak orang yang berpendidikan maka semakin mudah bagi suatu negara untuk membangun bangsanya. Hal ini dikarenakan telah dikuasainya keterampilan, ilmu pengetahuan dan teknologi oleh sumber daya manusianya sehingga pemerintah lebih mudah dalam menggerakkan pembangunan nasional.
·      Kedua, investasi pendidikan memberikan nilai balik (rate of return) yang lebih tinggi dari pada investasi fisik di bidang lain. Nilai balik pendidikan adalah perbandingan antara total biaya yang dikeluarkan untuk membiayai pendidikan dengan total pendapatan yang akan diperoleh setelah seseorang lulus dan memasuki dunia kerja.
·      Ketiga, investasi dalam bidang pendidikan memiliki banyak fungsi selain fungsi teknis-ekonomis yaitu fungsi sosial-kemanusiaan, fungsi politis, fungsi budaya, dan fungsi kependidikan. Fungsi sosial-kemanusiaan merujuk pada kontribusi pendidikan terhadap perkembangan manusia dan hubungan sosial pada berbagai tingkat sosial yang berbeda.

5.        Tanggungjawab terhadap Tuhan
Penciptaan manusia dilandasi oleh sebuah tujuan luhur. Maka, tentu saja keberadaannya disertai dengan berbagai tanggungjawab. Konsekuensi kepasrahan manusia kepada Allah SWT, dibuktikan dengan menerima seluruh tanggungjawab (akuntabilitas) yang datang dari-Nya serta melangkah sesuai dengan aturan-Nya. Berbagai tanggungjawab ini, membentuk suatu relasi tanggungjawab yang terjadi antara Tuhan, manusia dan alam. Hal tersebut meliputi antara lain: tanggungjawab manusia terhadap Tuhan, tanggungjawab manusia terhadap sesama, tanggungjawab manusia terhadap alam semesta serta tanggungjawab manusia tehadap dirinya sendiri. Tanggungjawab manusia terhadap Tuhan meliputi dua aspek pokok. Pertama, mengenal Tuhan. Kedua, menyembah dan beribadah kepada-Nya.
Pengabdian dan Pengorbanan
Wujud tanggungjawab juga berupa pengabdian dan pengorbanan. Pengabdian dan pegorbanan adalah perbuatan baik untuk kepentingan manusia itu sendiri. Pengabdian adalah perbuatan baik yang berupa pikiran, pendapat ataupun tenaga sebagai perwujudan kesetiaan, cinta kasih sayang, norma, atau satu ikatan dari semua itu dilakukan dengan ikhlas. Pengabdian itu pada hakekatnya adalah rasa tanggungjaab. Apabila orang bekerja keras sehari penuh untuk mencapai kebutuhan, hal itu berarti mengabdi keapada keluarga. Manusia tidak ada dengan sendirinya, tetapi merupakan mahluk ciptaan Tuhan. Sebagai ciptaan Tuhan manusia wajib mengabdi kepada Tuhan. Pengabdian berarti penyerahan diri sepenuhnya kepada uhan, dan merupakan perwujudan tanggungjawab kepad Tuhan.
Pengorbanan berasal dari kata korban atau kurban yang berarti persembahan, sehingga pengorbanan berarati pemberian untuk menyatakan kebaktian. Dengan demikian pengorbanan yang bersifat kebaktian itu mengandung keikhalasan yangtidak menganadung pamrih. Suatu pemberian yang didasarkan atas kesadaran moral yang tulus ikhlas semata-mata. Perbedaan antara pengabdian dan pengorbanan tidak begitu jelas. Karena adanya pengabdian tentu ada pengorbanan. Antara sesame kawan sulit dikatakan pengabdian karena kata pengabdian mengandung arti lebih rendah tingkatannya, tetapi untuk kata pengorbanan dapat juga diterapkan kepaa sesame teman..
Pengorbanan merupakan akibat dari pengabdian. Pengorbanan dapat berupa harta benda, pikiran dan perasaan, bahkan dapat juga berupa jiwanya. Pengorbanan diserahkan secara ikhlas tanpa pamrih, tanpa ada perjanjian, tanpa ada transaksi, kapan sja diperlukan. Pengabdian lebih banyak menunjuk pada perbuatan sedangkan pengorbanan lebih banyak menunjuk pada pemberian sesuatu misalnya berupa pikiran, perasaan, tenaga, biaya. Dalam pengabdian selalu dituntut pengorbanan, tetapi pengorbanan belum tentu menuntut pengabdian.

Sumber :
http://putrikumalasari.wordpress.com/2011/05/26/ilmu-budaya-dasar-manusia-tanggung-jawab-serta-pengabdian/