Sabtu, 12 Oktober 2013

B.Indonesia [Tugas]

Maraknya penggunaan bahasa Indonesia yang tidak baku dikalangan anak muda

Di Indonesia, perkembangan bahasa terjadi dengan cukup cepat. Mengingat Indonesia memiliki lebih dari 700 bahasa daerah serta bahasa persatuan yang kesemuanya mengalami berbagai dinamika dan strateginya masing-masing dalam menghadapi terjangan bahasa asing maupun bentuk perkembangan bahasa lainnya. Masyarakat bahasa, terutama yang berada di masyarakat perkotaan akan semakin mudah menerima berbagai unsur yang masuk dalam mempengaruhi perkembangan bahasa. Pada masyarakat bahasa, terdapat sikap bahasa yang dimiliki oleh masyarakat bahasa dalam menyikapi kebahasaan mereka.

Bahasa adalah suatu isyarat yang digunakan untuk berkomunikasi. Bahasa memang sangat beragam. Misalnya, di wilayah satu wilayah yang lain pasti memilki bahasa yang berbeda. Negara satu dengan negara yang lain juga pasti memilki bahasa yang berbeda. Di Indonesia ditemukan berbagai ragam bahasa, ada bahasa Jawa, bahasa Sunda, Madura, Betawi dan masih banyak lagi, hingga disetiap kalanganpun memilki bahasa yang berbeda. Bahkan kini di kalangan remaja pun menggunakan bahasa sebagai bahasa mereka sehari-hari, yang biasa disebut bahasa gaul. Bahasa remaja yang digunakan oleh anak remaja pada zaman sekarang ini, sebenarnya muncul dari kreativitas mereka mengolah kata baku di dalam bahasa Indonesia menjadi kata yang tidak baku. Bahasa gaul dapat timbul dari iklan di televisi, lirik lagu maupun ragam sms. Bahasa lagu dan lirik lagu biasanya sangat mempunyai peranan penting dalam bagi remaja. Misalnya kata capek deh, sering digunakan remaja dalam kesehariannya bahkan anak-anak kecilpun ikut menirukan kata-kata tersebut. Dalam lirik lagu, misalnya pada kata ”mara-mara mara-mara itu nggak perlu udahan marahnya cepetan dong cepetan”. Pada novel-novel remaja juga ditemukan bahasa gaul tersebut. Misalnya, novel berjudul ”Cintapuccino” dari judulnya saja sudah menggunakan bahasa gaul, apalagi isinya. Terus sms, karena ingin cepat dibalas-menghemat pulsa juga menyingkat waktu, dia menulis ”maksi yuk”, “lez gpl”. Nah kata-kata tersebut memang sebenarnya kata-kata dalam sms, tapi “maksi”(yang berarti terima kasih), dan “gpl” (gak pake lama: Tidak Terlalu Lama) sering sekali dilontarkan oleh anak-anak muda dalam berkomunikasi sehari-sehari. Anak-anak ABG pada era ini menggunakan bahasa gaul dalam kehidupannya sehari-hari, karena mereka merasa cocok dan nyaman dalam menggunakannya. Mereka lebih menemukan jati dirinya sendiri sebagai anak remaja. Dan apabila dianatara mereka tidak menggunakannya, mereka dianggap tidak gaul. Dianggap tidak mengikuti perkembangan zaman. Tragisnya dianggap kuper. Dalam konteks demikian, mereka berlomba-lomba belajar bahasa gaul.
Fenomena kebahasaan yang kini begitu booming terjadi adalah maraknya penggunaan kata-kata gaul oleh remaja Indonesia, khususnya remaja perkotaan di kehidupan sehari-harinya. Adapun penggunaan bahasa gaul yang saat ini marak digunakan oleh remaja, baik yang masih duduk di bangku sekolah atau bahkan yang tidak mengenyam pendidikan adalah bahasa-bahasa gaul yang sejatinya diperkenalkan oleh media massa elektronik seperti iklan di televisi, sinetron khusus remaja, atau bahkan bahasa yang digunakan oleh selebriti diinfotainment. Kata-kata yang merujuk pada bahasa gaul yang booming kini seperti ciyus ‘serius’, miapah ‘demi apa’, enelan ‘beneran’ dan masih banyak lagi. Sepintas, kata-kata seperti itu terkesan lumrah terdengar sehari-hari. Penggunaannya marak digunakan oleh berbagai kalangan khususnya para remaja. Banyak yang menganggap jika penggunaan kata-kata terebut dianggap wajar dan lucu atau bahkan mencirikan identitas dari sekelompok masyarakat bahasa tertentu. Penggunaan kata-kata tersebut pada masa kini tak lagi diucapkan pada kelompok tutur sebaya, namun terkadang remaja saat ini dengan tidak sadar ataupun tidak sengaja melakukan tindak tutur dengan menggunakan bahasa tersebut kepada orang yang lebih tua. Unsur-unsur atau pihak-pihak yang terlibat dalam tindak tutur itu sama sekali tidak dihiraukan dalam tindak bahasanya.
Hal ini amat mengkhawatirkan. Hanya dari kesalahan penggunaan bahasa, bisa jadi menimbulkan banyak kesalahan persepsi yang menyebabkan berbagai gesekan yang timbul dalam masyarakat. Hal inilah yang menimbulkan masyarakat bahasa cenderung bersikap negatif atas penggunaan kata-kata tidak baku tersebut. Tidak hanya itu, penggunaan kata-kata tersebut cukup mengkhawatirkan bagi masyarakat Indonesia.

Penggunaan bahasa Indonesia masih harus diperhatikan lebih lanjut karena posisinya yang juga bersaing dengan penggunaan bahasa daerah maupun bahasa asing yang masuk di wilayah Indonesia. Kata-kata tidak baku tersebut dianggap mampu mengganggu stabilitas penggunaan bahasa Indonesia oleh para remaja. Remaja yang merupakan agen pembawa keberlangsungan bahasa Indonesia harus berjuang lebih keras dalam upaya mempertahankan bahasa persatuannya dari berbagai pengaruh yang cenderung negatif tersebut. Oleh karena itu, remaja Indonesia diharapkan mampu memberikan usaha terbaiknya dalam mempertahankan keberlangsungan bahasa Indonesia yang baik tanpa menghilangkan identitas kebahasaan sehingga remaja Indonesia tidak mudah terpapar oleh pengaruh-pengaruh negatif dalam hal kebahasaan tersebut.

Jumat, 04 Oktober 2013

B.Indonesia [Tulisan1]

Menyusutnya Prestasi Bulutangkis Indonesia

selebrasi kemenangan para pemain bulutangkis

Jika berbicara tentang Indonesia, siapa yang akan menyangkal bahwa sebenarnya Indonesia adalah bangsa yang besar. Bangsa yang memiliki kekayaan alam dan sumber daya manusia yang sangat  besar. Sayangnya kebesaran Indonesia hanyalah secara teoritis, karena secara faktual Indonesia tidak bisa menjadi besar karena terpasung akan kekuasaan pemerintahnya. Begitu pula dengan rakyat Indonesia yang saat ini mulai melupakan sejarah, sejarah yang harusnya jadi pembelajaran untuk melangkah ke depan, hanya semata jadi panduan lewat buku sekolah tanpa adanya hikmah yang diambil. Sejarah juga bukanlah mengenai hal yang terjadi ratusan bahkan ribuan tahun silam tetapi hari kemarin juga adalah suatu sejarah.
Kaitannya dalam bidang olahraga terutama pada bulutangkis seperti yang telah kita ketahui bahwa Indonesia pernah dikenal sebagai Raja dan Ratu Bulutangkis dunia yang ditakuti oleh Negara-negara Asia, Eropa dan bahkan Amerika tidak mampu menandingi prestasi Indonesia. Indonesia lewat Susi Susanti dan Alan Budikusuma pernah mencetak sejarah sebagai atlet yang pernah mendapatkan medali Emas Olimpiade Barcelona. Rudi Hartono, mencetak sejarah orang pertama yang menjuarai All England 7 kali beruntun. Indonesia juga pernah menjadi peraih terbanyak piala Thomas lewat pemain berskill tinggi dan bermental baja seperti Hariyanto Arbi, Ardi B. Wiranata, Joko Suprianto, Hendrawan, Ricky-Rexy, Chandra-Sigit. Lalu sejarah medali medali emas olimpiade juga tak pernah terputus sampai 2008 dimana terakhir Kido-Hendra yang sukses merebut di sektor ganda.
Namun seperti yang kita rasakan saat ini bahwa sejarah hanyalah sejarah. Layaknya buku pelajaran atau majalah yang tak dilihat kembali di hari dan tahun berikutnya. Prestasi Indonesia menurun drastis. Meskipun Taufik sukses merebut medali emas olimpiade Sydney namun alarm peringatan sudah berbunyi. Tak ada suksesor Taufik di sektor tunggal putra. Simon Santoso yang harusnya sudah memiliki prestasi mentereng di usia puncak pun terlihat kepayahan menembus dominasi China, Korsel, Malaysia, bahkan Jepang dan Denmark serta kini Thailand. Hayom Rumbaka dan Tommy Sugiarto lebih hancur lebur lagi. Saat era Taufik pun, hanya ia seorang yang memiliki skill dan mental mencolok dibanding rekan semisal Soni Dwi Kuncoro atau yang lain. Di sektor ganda putra, setelah Rexy-Ricky, Chandra-Sigit, Kido-Hendra yang sempat perkasa menumbangkan lawan-lawannya, sektor yang sudah lama jadi lumbung prestasi Indonesia mulai dilanda kekeringan. Perpecahan antara Kido-Hendra menyebabkan permainan mereka tak padu lagi. Perombakan yang dilakukan jajaran pelatih pun tak cukup sukses. Lihat saja prestasi Kido bersama Alvent, atau Hendra dan Ahsan? Relatif stagnan. Bona-Ahsan yang sempat menjadi harapan pun tumbang ditengah jalan. Praktis sektor ganda putra kini dikuasai China, Korsel, dengan Malaysia dan Denmark.
Apalagi jika melihat sektor tunggal dan ganda putri ketika prestasi berupa piala atau medali tak kunjung mampir di PBSI. Sudah cukup lama ketika Susi Susanti merebut medali emas, memimpin rekannya merebut piala Uber, bahkan melihat Mia Audina menjejakan kaki di semifinal Uber Cup. Sejak saat itu tak ada kebanggaan dari sektor putri. Masalahnya juga sama, regenerasi. Praktis tak ada generasi emas penerus Mia atau Susi. Maria Christin yg cukup baik harus pensiun karena cedera parah. Lainnya semacam Firdasari, Baleatrix, Lindaweni, atau Maria Febe tak mampu berkutik ketika melawan pemain China, Korsel, Jepang, Denmark, dan kini bahkan tak mampu meredam pemain India semacam Saina Nehwal yang kini sudah mampu mendominasi China dengan Wang Yihan dan Lie Xeurui. Di sektor ganda, tidak ada pemain yang bisa diharapkan meraih gelar juara. Satu-satunya yg relatif stabil adalah Ganda Campuran. Walaupun kesulitan, tetapi setidaknya Liliyana-Tontowi masih mampu merusak dominasi China, Denmark dan Korsel. Di sektor ini regenerasi cukup baik dilakukan. Sejak era Trikus-Minati, Liliyana-Nova, dan kini Liliyana-Tontowi masih mampu menjaga dengan cukup baik. Pia-Kido, Frans-Sendy bisa cukup diharapkan.
Menurut saya menurunnya prestasi bulutangkis Indonesia disebabkan oleh berbagai faktor yang diantaranya adalah:
·         tidak terjalinnya komunikasi pengurus PBSI dengan pelatih dan atlit sehingga membuat suasana dipelatnas tidak kondusif. Saya sendiri menyebutnya ini merupakan permasalahan internal.
·         Masih adanya budaya sogok atau nepotisme, hal ini bisa saja terjadi apabila seorang atlet yang ingin masuk ke sebuah klub pelatnas misalnya.
·         Kurangnya kedisiplinan. Misalnya dari jadwal latihan yang sudah ditentukan justru atlit datang tidak tepat waktu dan ada lagi suatu masalah dimana pemain yang kurang fokus dalam bertanding justru sibuk dalam dunia maya bahkan beberapa menit sebelum bertanding pemain sempat mem-posting dalam sebuah akun jejaring sosial. Hal ini sungguh sangat mengganggu konsentrasi pemain dalam bertanding.
·         Masalah fisik juga salah satu faktor penyebab menurunnya prestasi bulutangkis, dimana pemain yang baru bertanding tiba-tiba harus mengalami cedera hal itu terjadi mungkin saja karena fisik yang kurang terlatih akibat jadwal latihan yang kurang disiplin.
·         Kurangnya rasa nasionalisme dikalangan atlet. Banyak dari atlet kita yang hanya tergiurkan oleh uang, bukan oleh rasa nasionalisme. Bagaimanakah cara menaikan jiwa nasionalisme dikalangan anak bangsa? Hali ini harus dimulai sejak kecil, baik di lingkungan sekolah maupun keluarga.
·         Kurangnya dukungan media untuk memasyarakatkan bulutangkis, kurangnya penayangan pertandingan-pertandingan bulutangkis distasiun televisi juga bisa menjadi salah satu penyebabnya. Apakah bulutangkis kurang menarik?


Demikian opini saya mengenai menyusutnya prestasi bulutangkis Indonesia dan semoga yang saya sampaikan dapat diterima oleh PBSI dan bisa menjadi pembenahan untuk ke depannya. Saya berharap semoga prestasi bulutangkis Indonesia semakin maju, dan harapan untuk melanjutkan tradisi emas olimpiade dapat tercapai.